<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/31978585?origin\x3dhttp://coretan-endang.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>

CORETAN ENDANG

Segalanya yang ingin kucoretkan.......cerita-cerita tentang kehidupan yang ada, dan tak usah risau tentang nyata atau tidak..........
 

Memandangmu, Lelaki............

Monday, November 19, 2007

" Dodol...dodol.....mau nggak dodolnya?"
Panas siang yang terik diantara hari-hari yang mulai memberikan deras hujan, dengan suara lelaki tua. Panas yang tak bisa diisi dengan kudapan manis seperti dodol yang dijajakannya. Dan kenyataan itu yang menjadi jawaban bagi tawaran sang bapak tua . Kaki kurus dengan bungkus kulit sangat keriput terus melangkah memasuki halaman rumah ini. Dan dia lalu duduk di sebuah kursi disana, membiarkan semua mata menatap tak tahu mau bicara apa.

"Ya...saya dengar kok. Gak mau dodolnya juga gakpapa..."
Mata-mata di halaman ini menatap makin heran. Tapi hatiku tiba-tiba menjadi pedih sendiri, tak perlu banyak penjelasan. Dan ketika pedih ini ingin menggerakkan seluruh yang ada untuk membawakannya segelas air dingin, kaki tua itu telah melangkah lagi. Keluar. Tanpa pamit atau permisi seperti dia masuk tanpa ijin. Hatiku makin pedih. Siang memang sangat terik dan melelahkan. Dia adalah kaummu, kasihku.......

Benakku lari ke sisi lain kota ini. Bapak tua lain. Keringatnya mengucur mengalir karena larinya menggapai apa yang dia lihat sebagai hak. Mataku memandang haknya sebagai sebuah monumen kasih sayang. Mengabadikan jejak panjang yang mampu digoreskan oleh tulang, otot dan peluh, dan mungkin harus hilang. Sebuah susunan banyak batu yang bicara tentang cinta, kerja keras dan harga diri kelelakian. Bukan harga angka, tapi kelelakian. Kaummu, wahai kasih....

Memalingkan wajah pada sisi lain, tertampak lukisan serupa. Lelaki dengan usia tengah baya, belum sepuh benar. Dia ciptakan juga menara cinta dengan peluhnya. Dengan keteguhan hati dan idealisme yang seringkali harus dilembutkan dengan bijak. Tak ada keluhnya. Batuk kecil kadang menemani malamnya. Hati ini tak kuasa memandang tanpa ingin menapakkan belaian di wajah yang lelah. Itu kamu.............

Kamu dan mereka adalah lelaki-lelaki biasa, dengan semangat luar biasa. Kuselami setiap langkah kaum itu. Kucoba pahami tiap hati yang terasa patah jika tak didapat ladang untuk membuat monumen cinta. Meski bait-bait lembut mulut wanita menerima kekalahan, tapi harganya bukan angka. Kelelakian. Itu yang katanya mau disuarakan. Karena harga itu adalah peninggalan tertua yang terwariskan pada kaummu.

Mungkin bukan yang istimewa dalam dunia ini. Banyak cerita serupa. Bahkan tak sedikit yang sungguh bercela tak mampu terkatakan hingga semua seolah tampak sama berengseknya. Perempuan-perempuan sepertiku bahkan banyak yang melangkah lebih jauh. Pundaknya bahkan memanggul lebih berat. Tapi entah mengapa tak ingin kusuarakan semua itu. Biar itu menjadi rahasia hatiku. Karena tampaknya akan lebih indah begitu dalam pandanganku. Tak perlu juga diminta tandatangan para lelaki untuk mengakui keperkasaan kaum perempuanku. Sebab perempuan lebih cantik bersuara dengan mata dan hatinya.

Maafkan untuk tiap keluh yang melupakan peluhmu. Ampuni untuk tiap pinta yang sepasti datangnya mentari di ufuk Timur. Dan maklumi jika perempuan melangkahi garis yang katanya tergariskan. Mungkin ada sakit yang ingin dibebaskan dengan langkah kecil. Tapi cobalah pandang dirimu lagi. Dengan sedikit tundukan kepalamu, hati kami bisa menangis. Dengan sedikit pejaman matamu yang lelah, tangan kami akan membelai. Dan kami tak butuh puja puji tak perlu. Kami cuma tak ingin melihatmu tenggelam dalam kesombongan.



Kasih, lembut genggamanmu ini menenangkan hariku.............




Labels: ,

Senyum dan Tangis

Tuesday, August 14, 2007


Gambar dari sini





Satu hari, kami tersenyum dan tertawa
untuk satu pasangan anak manusia yang bersukacita

Satu hari berikutnya,
ketika satu senyum pergi untuk selamanya
dan tak mungkin kami temui lagi di dunia ini,
kami cuma bisa menangis,
tanpa berkata-kata

Labels: , ,

Surat Untuk Kekasih.....

Friday, June 01, 2007

Selamat pagi sayangku,

Tanpa terasa, sudah cukup jauh kita melangkah. Ada banyak kata, bunga dan limbah dalam perjalanan itu. Tapi sungguh masih terlalu jauh lagi jarak yang diperuntukkan bagi kaki-kaki ini. Mampukah? Harus, dengan bantuan cinta dan hati .

Kekasih,
begitu banyak khilaf kuletakkan disini. Tapi senyummu untukku tak pernah hilang. Meski kutahu mungkin kaupun penat dengan debu jalanan menempel. Dan karenanya, senyumku pun mampu kuberikan untuk khilafmu.

Sayang,
ingatkah kau beribu lembar kertas dan bergalon tinta pernah tertuang untuk menjembatani ratusan kilo jarak lautan? Pasti, begitu jawabmu. Mereka saksinya bagaimana kita mengobati luka yang tergores karena tak saling memandang. Dan mereka juga obat kita kala marah dan benci tiba-tiba hadir. Karena kadang kita memang butuh banyak hal di luar diri untuk membantu tetap tegak. Sesungguhnya karena kita mengetahui kelemahan kita sendiri.

Dan cintaku,
lihatlah mata-mata kecil yang masih terpejam di pagi ini. Merekalah napas kita sekarang. Untuk mereka kita hidup dan melangkah saat ini. Demi menjaga kemurnian mereka pula, kita harus menjaga rasa ini. Maka masih banyak tugas yang ada di pangkuan. Tapi aku yakin bisa kita lakukan bersama. Dengan mata hati kita.

Kekasih,
terimakasih untuk semua hal yang kuterima darimu. Mari kita tetap bergenggaman tangan. Dan jangan biarkan ada angin jahat menyelusup di sela jari-jari ini, agar kita tidak hancur olehnya.



Cinta Pada langkah ke 14,
Istrimu

Labels: ,

Sebuah Dokumentasi

Thursday, August 17, 2006

"NASKAH KILAS BALIK 50 TAHUN PERNIKAHAN ORANGTUAKU"

Bedhol Kayon
( Dibuka tembangan Dandhang Gulo )
( Suara narasi : MC masuk suara setelah kurang lebih 3 baris Dhandang Gulo )
Ketika perbedaan disanggupi untuk diterima
dan segala kesulitan disepakati untuk dihadapi bersama
maka rencana untuk berjalan beriringan diwujudkan
kebahagiaan menjadi tujuan
keluarga Kartosuwarno almarhum serta keluarga Sidhi Sastromihardjo almarhum pun menjadi kerabat

( penceritaan dengan wayang tentang pertemuan Bapak Ibu, diisi 'dialog wayang' oleh dalang
( penceritaan dengan wayang tentang pembicaraan antara 3 bersahabat mengenai pernikahan)
latar belakang gendher dan slenthem
Dua manusia itu,
Bambang Ramelan dan Soediati, tidak hanya sendiri
Kerabat tidak harus hanya bertalian darah, tetapi juga didapat dari kentalnya persahabatan
Sungguh kebesaran Allah yang diterima
Ketika sahabat mereka, Suryani dan Ismunardi, pun memiliki rencana yang sama
Dalam waktu berdekatan mereka masing-masing menikah

Pasangan Bambang Ramelan dan Soediati, sejak 31 Juli 1954, membentuk rumahtangga...
( diberikan ilustrasi musik/wayang/tembang lirih)

Dalam kehidupan pasangan Bambang Ramelan dan Soediati,
tidak pernah jauh dari perjuangan dan persahabatan

Selingan pencair suasana dengan dialog punakawan oleh dalang
(narasi MC digantikan dengan penceritaan oleh seorang putra)

Mengawali kehidupan keluarga di tahun-tahun pertama
adalah sebuah cerita yang sarat dengan kepedihan
Ekonomi minim, kerapnya berpisah jarak karena tugas, dan berbagai cobaan
Mereka menyikapinya dengan perjuangan tak kenal putus asa
Hati dan mulut mereka selalu melantunkan doa
demi kehidupan anak-anak titipan Allah
Di setiap kesempatan saat tampak anak-anaknya merasakan kesedihan,
tak pernah lupa dibisikkan segala nasehat tentang kehidupan,
ketiadaan kesedihan yang abadi, keberanian, kejujuran,
juga kesuksesan yang mungkin membuat hati lumpuh
karena lahirnya kesombongan


Dalam sakit yang parah,
bukan sikap menyerah yang diberikan Bapak kepada keluarga
Beliau gantikan keputusasaan yang tampak di mata kami
dengan sebuah janji dalam keyakinan
bahwa anak-anaknya akan mampu mengecap pendidikan tinggi
dengan kondisi yang sangat layak.
Di tengah kepiluannya saat itu,
Ibu juga tidak memperkenalkan sikap cengeng
Beliau melakukan segala yang mampu diperbuat seorang wanita sederhana
Anak-anaknya diajak bahu membahu mendapatkan uang pengobatan Bapak
dengan berjualan jamu buatan sendiri tanpa malu,
meskipun dengan memakai seragam sekolah
Anak-anaknya,bahkan sampai kepada yang terkecil yang tidak turut dalam masa sulit itu disadarkan...
bahwa kelahiran anak dalam keluarga, dalam urutannya, mengemban tugasnya masing-masing
Kami tahu, pemimpin kami dalam keluarga setelah Bapak Ibu,
adalah anak pertamanya
yang harus berusaha menyatukan adik-adiknya,
memberi contoh bagaimana membela kehormatan orangtua dan keluarga
Anak pertama itu tidak pernah ragu ketika dia dibutuhkan untuk mencari dokter
di tengah malam sekalipun,padahal usianya belum lagi akil baliq
Kegelapan malam diterjang demi obat untuk kesembuhan Bapak,
Tindakan yang menjadi pemersatu keluarga.
(Diselingi semacam mocopat/tembang dan olah wayang dengan dialog dalang yang menggambarkanpetuah orangtua kepada anaknya. Suasana yang ingin dicapai : kedalaman batin orang yang menderita tapi menerima dengan kepasrahan tanpa harus kehilangan semangat hidup)

(narasi MC)
Kekuatan dan semangat untuk keluar dari segala kesulitan
mendapatkan energinya dari uluran tangan tulus pak Suryani,
sahabat yang tidak pernah menghilang dalam kondisi terburuk sekalipun
Hanyalah dari rasa persahabatan sejati,
semua yang beliau berikan untuk nyawa Bapak Bambang Ramelan
Suatu pelajaran amat berharga dalam kehidupan keluarga selanjutnya
bahwa kesemuanya itu juga berarti sebuah kesetiaan
Ketika kaki yang melangkah itu menjadi semakin kuat,
kesetiaan dan persahabatan selalu mendasari pekerjaan apapun yang dilakukan.
Ini dibuktikan dengan pengabdian bertahun-tahun kepada seorang sosok agung
Sosok yang tidak dapat dipungkiri, sungguh mengangkat hampir segala kesulitan yang sebelumnya membelenggu
Mengikat erat sejarah kehidupan keluarga masa lalu


(kembali penceritaan oleh putra)
Bapak Ali Said adalah sosok yang sangat mewarnai sejarah hidup kami
Mengangkat Bapak sebagai seorang Ajudan semenjak masih di KODAM VIII Brawijaya Surabaya
Setiap perpindahan penugasan Pak Ali Said sampai masa pensiun beliau
sebagai Ketua MA, Bapak tidak pernah ditinggalkan
Banyak orang merasa kagum dengan kenyataan ini
Dimana Pak Ali Said menjabat di sebuah lembaga,
pasti Bapak mendampingi sebagai ajudan
Rasanya telah tercipta sebuah pemahaman tersendiri di antara keduanya
Dan tentu, Bapak pun memberikan pengabdian terbaiknya
hingga detik-detik akhir kehidupan Pak Ali Said
Sebagai wujud kesetiaan dan persahabatan seperti yang telah Bapak pelajari di masa sulitnya
Bapak dan Pak Ali Said saling mengisi, dalam susah dan senang
Maka tidak heran, ketika akhirnya Bapak mulai menikahkan putra-putrinya satu persatu,
Pak Ali Said dan keluarga selalu mendapatkan tempat khusus diantara undangan yang lain, terlebih di hati kami

(ilustrasi dengan wayang/gending/tembang tentang hubungan Bapak dan pak Ali Said)
(masuk ilustrasi yang menghubungkan cerita tentang pak Ali Said dengan kisah penutup)


(kembali pada narasi MC)
Hidup keluarga Bapak Bambang Ramelan dan Ibu Soediati terus bergulir
Semakin hari semakin baik
Meski dalam setiap nafas manusia selalu diiringi dengan cobaan dan rintangan
Tetapi dengan kebersamaan keluarga dan bekal perjalan selama 50 tahun
Segala rintangan terasa menjadi lebih ringan

(ilustrasi musik/tembang, mengiringi prosesi cium tangan dan potong tumpeng. Suasana bahagia, tetap dalam kedalaman memaknai semuanya dengan rasa syukur tanpa harus berlebihan)
Dan kini, inilah mereka, putra-putri, menantu dan cucu-cucu...
ingin bersujud dan berterimakasih, untuk semua yang Bapak Bambang Ramelan dan Ibu Soediati lalui selama ini...

Mereka berterimakasih karena Bapak Ibu senantiasa mendidik mereka menjadi orang yang bisa menitipkan diri pada masyarakat,
dengan nilai-nilai yang baik,
dan Insya Allah semakin baik
Sejarah sebuah keluarga tertulis dalam kehidupan yang tidak mungkin terlupakan
menjadi pelajaran dalam diri putra-putri yang telah membentuk keluarga sendiri
dan menjadi kenangan manis sepanjang masa

(iringan gending terus mengalun lirih sebagai latar belakang acara cium tangan)
(penyampaian ucapan selamat dan terimakasih diwakili seorang putra kepada Bapak Ibu sambil bersiap menyerahkan tumpeng untuk dipotong)


Bapak, Ibu, matur nuwun...
Kami sudah mendapat sebuah pelajaran
Yang menjadi bekal dalam perjalanan rumahtangga kami
Kami akan berusaha meneladani dari apa yang kami saksikan
Selalu ada kata setia dalam setiap nafas Bapak Ibu
Saling mengisi dalam setiap langkah beriring
Saling percaya dalam setiap ketidaktahuan
Dan ketulusan dalam setiap alasan yang membuat tangan bapak Ibu terulur...
Semua...semua, adalah sebuah keteguhan janji yang telah dibuktikan
Janji untuk membawa satu kapal berlayar kuat selama 50 tahun ini
Dan yang masih akan berlayar terus,
Dengan Ridha Allah yang memberikan usia untuk mengiringinya


(Tumpeng diserahkan untuk dipotong Bapak Ibu,dikelilingi keluarga.Potongan tumpeng diserahkan kepada sahabat Bapak yang hadir (Bp.Suryani), dengan sebelumnya MC mempersilakan BP.Suryani dan Ibu naik panggung)

" Ditulis oleh putri bungsu dan putri satu-satunya dari Bapak Ibu Bambang Ramelan, yang akhirnya menikah dengan putra kedua Bp. Suryani,sahabatnya, tanpa melalui perjodohan oleh para orangtua. Ini sebagai wujud kecintaan seorang putri kepada orangtuanya, tidak lebih tidak kurang."

Labels:

Senandung Sunyi

Thursday, August 03, 2006

Putaran waktu yang sama
Berdentang denting terngiang-ngiang
Menuntun langkah berirama
Dalam ingatan sang Penunggu Waktu


Duhai kekasih-kekasihku....
Sarat sungguh bebanmu tergantung
Tanpa surut sang waktu mengajakmu berlari
Lelah bukan karibmu yang kau kenal
Walau sang waktupun bukan yang kau cinta
Gelap awan kau melangkah
Renta senja kau gayut pulang
Maka bolehlah kau berteriak wahai kasih...
Rindumu masih ada


Disini mataku sebagai saksi
Panjangnya hari kau lalui
Disini sunyiku menyapa
Bersama senandungnya yang lirih
Tapi taman hatiku masih ada
Mekar, bersemi bersiram cinta
Tak pantang kau singgahi
Rela kau rebahkan diri padanya
Hanya ini yang kupunya, sayangku...
Mungkin cukup membasuh luka peluhmu

Labels:

 
   





© 2006 CORETAN ENDANG | Blogger Templates by Gecko & Fly.
No part of the content or the blog may be reproduced without prior written permission.
Learn how to Make Money Online at GeckoandFly